Pun sama dengan hari ini, ada sebuah perayaan kecil untuk seorang teman yang berulang tahun. Sebenarnya tertanggal kemarin, namun kejutan perayaan kecil ini berlangsung di hari berikutnya, yaitu hari ini. Undangan untuk turut serta menjadi bagian dari perayaan itu pun sampai padaku. Sebuah pesan singkat whatsapp masuk di ponselku mengantarkan undangan untuk segera merapat ke lokasi perayaan. Awalnya aku berfikir untuk tidak ambil bagian saja, namun terkadang hati nurani seakan tidak mengijinkan hal tersebut. Ia berkata bahwa bagaimana mungkin kamu tidak ambil bagian dalam kejutan ini padahal kalian berteman. Jangan sampai nanti mereka mengira kamu sedang ada masalah dengan satu atau beberapa orang yang hadir di sana. Beberapa alasan pun sudah kuajukan untuk tidak turut serta, namun ada saja hal yang menjadikanku tetap melangkahkan kaki ke sana.
Showing posts with label Kisahku. Show all posts
Showing posts with label Kisahku. Show all posts
Friday, October 2, 2015
Tradisi Ulang Tahun
Monday, March 2, 2015
Kehidupan Baru di Asrama Wates UNY
Setelah melewati waktu tunggu yang cukup lama yaitu 6 bulan, kini tiba saatnya memenuhi hak atas tugas dan kewajiban yang telah dilaksanakan selama satu tahun yang lalu. Mengikuti Program Profesi Guru. Bonus yang dapat dinikmati tanpa harus mengeluarkan biaya selain biaya untuk kebutuhan pribadi. Bukankah ini menyenangkan?
Bertempat Jl. Bhayangkara No. 7 Wates, Kulonprogo, dua buah bangunan megah menjulang tinggi. Dua bangunan tertinggi di daerah tersebut. Bangunan yang dibangun oleh Universitas Negeri Yogyakarta tersebut merupakan sebuah asrama yang diperuntukkan bagi para mahasiswa baru yang diwajibkan untuk mengikuti kehidupan asrama selama satu tahun. Sama halnya dengan para mahasiswa baru yang tinggal di asrama tersebut, kami para alumni SM-3T LPTK UNY pun menempati asrama tersebut sebagai pemenuhan syarat PPG berasrama.
Dalam artikel yang dimuat pada website UNY disebutkan bahwa kehidupan berasrama merupakan sebuah proses pembelajaran kehidupan untuk membentuk karakter diri sebagai seorang guru yang profesional. Tentu bagi peserta SM-3T setelah menjalani 1 tahun pengabdian dengan situasi tidak terduga, kehidupan berasrama dengan jadwal yang ketat dan padat tentu bukanlah suatu hal yang sulit. Program SM-3T telah melatih jiwa kemandirian dan kerjasama.
Dengan pembagian kamar sesuai dengan yang telah ditentukan oleh pengelola, saya pun menempati salah satu kamar yang berada di lantai 4. Bersama dengan 2 orang teman baru, saya menempati kamar tersebut. Dua orang teman baru saya tersebut berasal dari penempatan yang berbeda satu sama lain, begitu juga dengan saya. Teman baru saya yang pertama bernama Rafidah Othman dari Prodi Bahasa Inggris, sebelumnya ia ditempatkan di daerah Ende, Flores, NTT. Teman baru saya yang berikutnya bernama Wanti dari Prodi Pendidikan Ekonomi, sebelumnya ia ditempatkan di daerah Gayo Lues, Aceh. Awalnya ada rasa canggung, apalagi sempat pernah terbesit rasa ingin untuk satu kamar dengan teman yang satu jurusan atau satu prodi. Namun, akhirnya saya sadar bahwa Tuhan punya rencana lain yang pasti lebih indah dari rencana yang telah saya buat. Dan dengan latar belakang yang berbeda, saya dapat bertukar pengalaman bersama dengan dua teman baru saya tersebut.
Dengan pembagian kamar sesuai dengan yang telah ditentukan oleh pengelola, saya pun menempati salah satu kamar yang berada di lantai 4. Bersama dengan 2 orang teman baru, saya menempati kamar tersebut. Dua orang teman baru saya tersebut berasal dari penempatan yang berbeda satu sama lain, begitu juga dengan saya. Teman baru saya yang pertama bernama Rafidah Othman dari Prodi Bahasa Inggris, sebelumnya ia ditempatkan di daerah Ende, Flores, NTT. Teman baru saya yang berikutnya bernama Wanti dari Prodi Pendidikan Ekonomi, sebelumnya ia ditempatkan di daerah Gayo Lues, Aceh. Awalnya ada rasa canggung, apalagi sempat pernah terbesit rasa ingin untuk satu kamar dengan teman yang satu jurusan atau satu prodi. Namun, akhirnya saya sadar bahwa Tuhan punya rencana lain yang pasti lebih indah dari rencana yang telah saya buat. Dan dengan latar belakang yang berbeda, saya dapat bertukar pengalaman bersama dengan dua teman baru saya tersebut.
Sunday, September 29, 2013
Bajawa, Kampung Halaman Kedua
Kota Bajawa, ibukota kabupaten yang menjadi satu-satunya tujuan ketika kami mendapatkan hari libur. Seolah kota ini merupakan kampung halaman kami para peserta SM-3T kabupaten Ngada untuk mudik.
Pun sama dengan hari ini, selain dikarenakan adanya rapat koordinasi yang telah dilaksanakan kemarin, kami juga berniat membeli beberapa barang kebutuhan yang tidak dapat kami temukan di desa tempat kami mengabdi. Satu-satunya kios yang ada di sana hanya menjual bahan makanan pokok dengan beberapa jenis jajanan. Alhasil, kami pun menunggu kesempatan untuk dapat ke kota. Dan kesempatan itu akhirnya datang...
Dengan berbekal keyakinan dan kepercayaan terhadap Alloh SWT dan tentu saja supir otto bemo yang beroperasi di kota maka sampailah kami di pasar inpres Bajawa dengan selamat. Yang ternyata eh ternyata letaknya tak jauh dari kodim. Hmm, biar sudah yang penting sekarang kami berdua sudah mengetahui letaknya. Hhe...
Pasar inpres Bajawa tidak berbeda jauh dengan pasar-pasar yang pernah kami jumpai sebelumnya. Segala jenis barang ada di sini. Dan tentu tak ketinggalan dari ciri khas sebuah adalah adanya tawar menawar barang. Harga yang ditawarkan di pasar inpres sungguh mencengangkan. Berkali-kali lipat dari harga umum yang ada di Jawa. Hampir semua barang yang dijual minimal berharga 5 ribu rupiah atau kelipatannya. Jarang sekali atau hampir tak ada barang dengan harga di bawah 5 ribu. Jikalah ada maka pembayaran harus menggunakan uang pas.
Desakan kebutuhan satu bulan hingga jadwal berkunjung ke kota berikutnya membuat kami harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Namun untuk mengawali kehidupan baru di tempat baru tentu saja ini adalah hal yang lumrah. Dan jangan kaget ketika melihat barang bawaan kami setelah keluar dari pasar. Masing-masing kami membawa tas ransel SM-3T berukuran sekitar 40lt dengan tangan penuh membawa ember ukuran sedang yang sudah kami isi dengan beberapa barang. Itu pun masih ditambah dengan perlengkapan ATK yg telah dibungkus tersendiri. Alhasil terlihatlah kami seperti orang yang hendak mengungsi. Tapi jangan tanyakan dimana foto kami dengan sebegitu banyaknya barang. Sebab, tangan dan tenaga kami sudah tak cukup lagi untuk sekedar berfoto.
Banyaknya barang bawaan yang kami sempat membuat kami kelimpungan. Bagaimana tidak, di kota yang belum kami kenal dengan baik ini, kami tidak tahu dimana menemukan otto. Sampai akhirnya kami menemukan otto satu-satunya yang dapat mengantarkan kami kembali ke penempatan.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Saturday, September 28, 2013
Keluarga, Saudara, Segalanya
Sehati telah mengantarkan kami ke rumah yang ditinggali oleh Mas Rahmat dengan selamat tepat sampai di halaman depan rumah. Si pemilik rumah pun menyambut kami dengan senyum ramah dan khas orang timur. Beliau bernama Bapak Mikel Dou. Tumbuhnya yang tambun serta caranya berbicara menandakan bahwa ia berpengetahuan luas dan tentu saja ramah. Dan tanpa menunggu lama kami pun disuguhi minum dan dipersilahkan untuk beristirahat sebelum menuju ke tempat pelaksanaan rapat koordinasi.
Awalnya rapat koordinasi memang akan dilaksanakan di sini, di Langa.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Friday, September 27, 2013
Perjalanan Menuju Kota Pertama
Hari ini aku bangun lebih pagi dari biasanya, bahkan beberapa jam lebih pagi dari hari lainnya. Begitu juga dengan mba Intan. Bukan bagaimana juga sebenarnya, hal ini dikarenakan otto kayu yang akan mengantarkan kami ke kota berangkat sekitar jam 4 pagi atau setengah 5 pagi. Karena itulah sebelum jam itu aku sudah harus bersiap agar tidak ketinggalan sehati, otto kayu satu-satunya di kampung. Semua barang yang akan dibawa pun sudah kami siapkan sejak malam sebelumnya.
Tidak sabar memang menanti salah satu transportasi khas yang satu ini. Sembari menunggu kami berdua duduk di bibir tembok penyokong yang ada di dekat lapangan di depan sekolah. Hari masih gelap saat itu, laut di depan kami pun nampak begitu tenang seolah mereka masih asyik beristirahat di peraduannya. Hmm, sedikit timbul rasa cemburu sebenarnya. Bagaimana tidak, ketika alam masih beristirahat dengan tenangnya, kami berdua sudah sibuk menanti otto kayu di tepi jalan demi dapat pergi ke kota. Tak berapa lama akhirnya terdengar bunyi klakson otto dari kejauhan. Itu artinya penantian kami berdua tak akan berlangsung lebih lama lagi karena cepat atau lambat otto yang kami tunggu pasti akan segera datang.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Thursday, September 26, 2013
Perbedaan Latar Belakang Adat dan Budaya
Rapat penyusunan RAPBS di sekolah kemarin merupakan rapat pertama yang aku ikuti sejak kehadiranku di SDK Ngedusuba. Selain waktu pelaksanaan yang molor hingga mencapai 5 jam dari waktu yang telah dijadwalkan, ada beberapa hal lain yang juga menyita perhatianku saat itu. Salah satunya adalah waktu makan siang yang ikut molor juga. Entah mendapat kekuatan darimana orang-orang yang hadir dalam rapat tersebut hingga mampu menahan rasa lapar begitu lama. Bagiku menahan lapar selama itu berarti sama saja dengan menyiksa badanku sendiri. Sebab dapat dipastikan aku tidak akan bertahan lama sampai akhirnya asam lambungku mulai beraksi dengan sesuka hati mereka. Untunglah waktu sholat menyelamatkan kami berdua dari rapat yang sedang berlangsung itu.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Wednesday, September 25, 2013
Rapat Guru dan Wali Murid Pertama
Kegiatan di sekolah tidak berjalan seperti biasanya. Meskipun ini bukan hari sabtu atau minggu, namun kegiatan pembelajaran ditiadakan. Alasannya karena akan berlangsungnya rapat penyusunan RAPBS sekolah. Rapat yang akan dihadiri oleh pengawas sekolah ini sungguh membuat seluruh warga sekolah menjadi terlalu sibuk, pun termasuk dengan para siswa. Meski mereka tidak ada kegiatan pembelajaran di kelas pada hari itu, mereka tetap datang ke sekolah. Sebagian dari mereka membawa kayu bakar, ada pula yang membawa dengan sayur atau sekedar segenggam cabai.
Sulitnya mendapatkan sayuran dan akses untuk menuju pasar yang cukup jauh tidak selamanya memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Kenyataannya, meski berat tapi cukup untuk mempererat rasa kekeluargaan antar warga yang satu dengan yang lain. Tak ada yang tak kenal satu sama lain antar warga yang satu dengan yang lain. Mungkin inilah yang menjadikanku kerasan dan tak merasa bahwa aku adalah seorang pendatang di suatu daerah nan jauh di sana. Aku merasa seakan telah tinggal lama di sana dan menjadi salah satu dari mereka.
Sulitnya mendapatkan sayuran dan akses untuk menuju pasar yang cukup jauh tidak selamanya memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Kenyataannya, meski berat tapi cukup untuk mempererat rasa kekeluargaan antar warga yang satu dengan yang lain. Tak ada yang tak kenal satu sama lain antar warga yang satu dengan yang lain. Mungkin inilah yang menjadikanku kerasan dan tak merasa bahwa aku adalah seorang pendatang di suatu daerah nan jauh di sana. Aku merasa seakan telah tinggal lama di sana dan menjadi salah satu dari mereka.
Dalam undangan yang dibuat, rapat dilaksanakan pada pukul 08.00 WIT. Karena itu persiapan pun dimulai sejak pukul 07.00 WIT. Semua sibuk dengan tugas masing-masing. Beberapa siswa pun turut membantu di dapur. Namun, tak ada satu pun dari mereka mengeluhkan apa yang sedang mereka kerjakan. Ketulusan mereka begitu alami. Aku semakin menyukai mereka semua. Mereka pun tidak mengeluhkan ketidaktepatan waktu pelaksanaan rapat. Rapat yang semula dijadwalkan pukul 08.00 WIT ternyata baru dapat dilaksanakan tepat pukul 11.00 WIT. Tapi tak ada keluhan yang kudengar keluar dari mulut mereka. Entah pelajaran hidup apa yang telah mereka terima hingga semua ini terbentuk dalam pribadi mereka, mungkin hanya itu yang aku pikirkan saat itu.
Acara rapat penyusunan RAPBS ini pun menjadi salah satu peristiwa penting dalam kehidupan kami di daerah penempatan, khususnya untuk mbak Intan. Dia merasakan pengalaman pertamanya menyembelih ayam dengan tangannya sendiri. Ayam yang disembelih pun tidak hanya satu ekor, melainkan 11 ekor. Sebuah rekor besar untuk kami yang biasanya terima bersih ketika membeli ayam di Jawa. Saat itu aku masih belum memiliki keberanian untuk melakukannya, aku hanya memegangi si ayam agar tidak melakukan pemberontakan. Bukan hal besar memang, tapi cukup untuk membuatmu mengeluarkan tenaga yang cukup besar. Ya, semuanya memang butuh proses tidak ada sesuatu yang baik yang dilakukan secara instan. Setidaknya begitulah yang terjadi di sini. Berproses merupakan hal yang memang sudah seharusnya dilakukan. Karena dengan berproses kita akan tahu apa arti dari sabar dan menghargai yang sesungguhnya.
Acara rapat penyusunan RAPBS ini pun menjadi salah satu peristiwa penting dalam kehidupan kami di daerah penempatan, khususnya untuk mbak Intan. Dia merasakan pengalaman pertamanya menyembelih ayam dengan tangannya sendiri. Ayam yang disembelih pun tidak hanya satu ekor, melainkan 11 ekor. Sebuah rekor besar untuk kami yang biasanya terima bersih ketika membeli ayam di Jawa. Saat itu aku masih belum memiliki keberanian untuk melakukannya, aku hanya memegangi si ayam agar tidak melakukan pemberontakan. Bukan hal besar memang, tapi cukup untuk membuatmu mengeluarkan tenaga yang cukup besar. Ya, semuanya memang butuh proses tidak ada sesuatu yang baik yang dilakukan secara instan. Setidaknya begitulah yang terjadi di sini. Berproses merupakan hal yang memang sudah seharusnya dilakukan. Karena dengan berproses kita akan tahu apa arti dari sabar dan menghargai yang sesungguhnya.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Monday, September 23, 2013
Origami untuk Paud St. Elisabeth Ngedusuba
Satu minggu telah berlalu di daerah nan juah dari kampung halaman. Berada di sekolah dengan mayoritas beragama katolik tidak membatasi ruang gerakku. Dalam waktu yang singkat itu pun aku sudah dekat dengan hampir semua guru dan karyawan di sana.
Hari ini seorang guru paud yang berkantor sama dengan kami para guru SD mendatangiku. Ia berkata bahwa ia melihat ada sebuah origami berbentuk burung dalam laci meja kerjaku kemarin sebelum pulang. Tidak heran jika ia melihat beberapa origami di laci mejaku di kantor, beberapa hari lalu aku iseng membuatnya karena bosan. Siapa yang menyangka jika hasil keisenganku untuk mengusir rasa bosan menarik perhatian salah satu guru paud. Ia mengatakan bahwa ia pun pernah melihat origami yang sama di sekolah paud lainnya. Tentu saja karena origami ini sudah umum dan hampir setiap guru di paud mampu untuk membuatnya. Hampir berarti baru sebagian besar, dan masih ada sebagian kecil yang bahkan hanya tahu tanpa bisa membuatnya. Dan sebagian kecil itu ada di sini, di paud yang letaknya satu komplek dengan sd tempatku mengabdi.
Hari ini seorang guru paud yang berkantor sama dengan kami para guru SD mendatangiku. Ia berkata bahwa ia melihat ada sebuah origami berbentuk burung dalam laci meja kerjaku kemarin sebelum pulang. Tidak heran jika ia melihat beberapa origami di laci mejaku di kantor, beberapa hari lalu aku iseng membuatnya karena bosan. Siapa yang menyangka jika hasil keisenganku untuk mengusir rasa bosan menarik perhatian salah satu guru paud. Ia mengatakan bahwa ia pun pernah melihat origami yang sama di sekolah paud lainnya. Tentu saja karena origami ini sudah umum dan hampir setiap guru di paud mampu untuk membuatnya. Hampir berarti baru sebagian besar, dan masih ada sebagian kecil yang bahkan hanya tahu tanpa bisa membuatnya. Dan sebagian kecil itu ada di sini, di paud yang letaknya satu komplek dengan sd tempatku mengabdi.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Sunday, September 22, 2013
Jauh Bagi Kami, Dekat Bagi Mereka
Minggu pagi pertamaku di tanah rantau begitu damai. Tak ada tuntutan harus cepat-cepat mandi pagi karena harus ke sekolah, dan segala rutinitasku di pagi hari di hari-hari sebelumnya. Meski belum juga genap 1 minggu aku tinggal di sana, tapi rasanya sudah lama saja aku berada di sana. Mungkin inilah yang orang sebut bahwa kita sudah mulai kerasan di tanah rantau.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Saturday, September 21, 2013
Berburu Siput Laut
tak kenal maka tak sayang...
Begitu kata pepatah yang pernah saya dengar. Ini adalah hari kedua saya berada di bagian lain negeriku Indonesia. Bertempat di sebuah kabupaten dengan garis pantai yang cukup panjang tentu akan membawamu menikmati sajian alam berupa pantai-pantai indah yang belum tentu akan kita temui di Pulau Jawa. Yaps, pantai dan laut. Inilah bagian dari ceritaku yang cukup indah untuk dikenang.
Begitu kata pepatah yang pernah saya dengar. Ini adalah hari kedua saya berada di bagian lain negeriku Indonesia. Bertempat di sebuah kabupaten dengan garis pantai yang cukup panjang tentu akan membawamu menikmati sajian alam berupa pantai-pantai indah yang belum tentu akan kita temui di Pulau Jawa. Yaps, pantai dan laut. Inilah bagian dari ceritaku yang cukup indah untuk dikenang.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Friday, September 20, 2013
Lisa Keli
Sampai hari ini aku masih belum banyak menghafal siapa-siapa saja yang telah aku temui, yang telah berkenalan denganku. Bagiku sangat sulit untuk menghafal begitu banyak orang dalam satu waktu. Selain anak-anak sekolah dan warga sekolah aku belum banyak berkenalan karena aku memang masih sibuk membereskan barang-barangku dan menyesuaikan dengan keadaan lingkunganku yang baru. Hingga tiba suatu sore ketika kami sedang membakar jambu di samping rumah, tiba-tiba terdengar suara seperti ada orang yang datang sambil berbicara sendiri. Dari nada bicaranya, ia terlihat sangat riang seolah akan bertemu dengan orang yang memang sedang ditunggunya. Mama Merry segera menyuruh kami berdua masuk ke dalam dan tidak keluar terlebih dahulu karena yang datang itu adalah orang gila. Tanpa pikir panjang, kai berdua pun langsung masuk ke kamar dan berdiam di sana.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Keluarga Baru, Pengalaman Baru
Tanpa listrik dan tanpa sinyal ternyata tidak membuat lingkungan baru di daerah penempatan ini menjadi sebuah suasana yang membosankan. Justru di sini saya temukan sebuah lingkungan yang begitu peduli satu sama lain. Sebuah lingkungan yang penuh kehangatan dan kekeluargaan. Orang timur yang katanya kasar dan lain-lain, sejauh ini belum saya temukan. Kecuali nada bicara yang cenderung tinggi dan memberi kesan seolah mereka sedang beradu mulut semuanya terlihat baik-baik saja. Tak ada yang berbeda.
![]() |
| Bakar jambu sekalian masak makanan babi |
Setelah melewati hari pertama ke sekolah yang cukup menyenangkan dengan adanya sambutan hangat dari warga sekolah, suasana bersahabat itu berlanjut ketika pulang sekolah. Mama Merry, mama asuh saya dan mbak Intan, mengenalkan kami pada kebiasaan orang-orang di sana. Kami dikenalkan pada kebiasaan mereka membuat cemilan yang biasa mereka makan. Bakar Jambu. Bakar jambu mengingatkan daya pada masa kecil ketika saya suka kabur ke kebun demi mendapatkan Jambu Mete dan membakarnya untuk kemudian dimakan. Karena komoditas perkebunan di Kabupaten Ngada salah satunya adalah Jambu Mete, maka bukan hal sulit untuk mendapatkan buah yang satu ini. Bahkan kamu dapat menemukan pohonnya di sepanjang jalan, atau bahkan di halaman-halaman rumah warga. Dan saya menemukan sejumlah pohon tersebut di halaman sekolah.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Pemegang Masa Depan ada Dihadapanku
Terlihat segelintir siswa berbagai umur duduk berderet di halaman depan sekolah. Seragam pramuka yang terlihat lusuh seakan mengatakan yang dikenakan mereka tidak membuat mereka kehilangan senyum manis nan polos dari bibirnya. Sebuah pemandangan khas dari anak-anak. Seakan mengatakan bahwa hidup mereka begitu menyenangkan meski keadaan ekonomi keluarga mereka mengatakan sebaliknya. Ya, berdasarkan data siswa di sekolah mereka menyatakan berasal dari keluarga dengan perekonomian menengah ke bawah. Lagi-lagi senyum manis mereka seakan menutupi segalanya, membuat setiap orang yang melihatnya seakan ikut merasakan kebahagian yang sedang mereka rasakan. Sorot tajam yang terpancar dari mata indah mereka mengatakan bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu serta rasa percaya diri yang tinggi. Kemauan tinggi untuk belajar.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Thursday, September 19, 2013
Perjuangan untuk Sebuah Pengabdian
![]() |
| Oto Sehati |
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
SM-3T
Wednesday, September 18, 2013
Alat Transprotasi Unik di Kabupaten Ngada, NTT
Acara Pelepasan dan Serah Terima Peserta SM-3T Angkatan 3 telah usai. Kini tiba saatnya kami para peserta SM-3T Angkatan 3 berangkat menuju ke daerah penempatan masing-masing sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan sebelumnya. Tentunya dengan guru atau Kepala Sekolah yang datang untuk menjemput para peserta SM-3T Angkatan 3.
Begitupun dengan saya dan mbak Intan, kami berdua telah bersiap untuk berangkat ke daerah penempatan kami bersama dengan Kepala Sekolah dari SDK Ngedusuba yang telah datang menjemput kami ke kantor Dinas Pendidikan. Kulihat begitu pula yang terjadi pada teman-teman peserta SM-3T lainnya. Satu per satu mereka meninggalkan kantor dinas dengan kendaraan dinas sekolah yang dikendarai oleh pihak sekolah yang menjemput mereka. Sempat terbesit pula dalam hati ini bahwa kami pun mungkin akan segera mengalaminya, berangkat ke daerah penempatan dengan kendaraan dinas seperti yang dialami oleh teman-temanku.
Setelah berbincang singkat dengan mbak Wika dan mbak Aster, peserta SM-3T angkatan 2 yang sebelumnya juga ditempatkan di SDK Ngedusuba, barulah kami tahu bahwa kami tidak akan berangkat ke daerah penempatan menggunakan kendaraan dinas sekolah seperti yang lainnya. Kami telah disiapkan sebuah kendaraan khusus yang spesial dan telah menanti kami di depan kantor dinas pendidikan. Kendaraan yang dimaksudkan adalah Oto Kayu.
Labels:
Daerah Penempatan SM-3T,
Kisahku,
Pengetahuan,
SM-3T
Subscribe to:
Posts (Atom)

